Development of palm oil sector and future challenge in Riau Province, Indonesia

The development of palm oil plantations results in land conversion, posing potential erosion. In anticipating environmental damage, the Government of Indonesia imposes the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) policy. The results of ISPO policy show that Indonesian crude palm oil products are environmentally friendly. This research is one of few studies that investigate the development of palm oil sector and future challenge in Riau Province, Indonesia. Riau Province still needs 13 units of palm oil mills with capacity of 60 tons per hour. Find strategies to regulate palm oil farming institutions and derivative products to enhance growth and economic development in the region and find production centers and development areas for palm oil local industries in potential regions.

Citation: Syahza, A. and Asmit, B. (2019), “Development of palm oil sector and future challenge in Riau Province, Indonesia”, Journal of Science and Technology Policy Management, Vol. ahead-of-print No. ahead-of-print. https://doi.org/10.1108/JSTPM-07-2018-0073

Improved Peatlands Potential for Agricultural Purposes to Support Sustainable Development in Bengkalis District, Riau Province

By: Almasdi Syahza, Djaimi Bakce, and Mitri Irianti

Abstracts: Bengkalis District in Riau Province, Indonesia, has potential peatlands covering 647,962.26 ha or 76.05% of its total land area. Peatlands not only have a function as direct life support, especially by providing area for agricultural purposes, but also ecological functions, such as flood and global climate control. Peatland areas will be arduous to restore if damaged. This condition certainly has negative impacts on the socio-economic aspects of the people living in the surrounding areas in particular. Sustaining the function of peatlands for the ecosystems essentially requires a detailed review of spatial feasibility and socio-economic impacts of peat swamp reclamation. Plants that have been cultivated on peatlands by the community are palm oil, rubber, coconut, coffee, and areca catechu (pinang). On wetlands, in particular, people do sago farming. One of the problems encountered in the utilization of peatlands is the low level of community participation in the development of peatland management policies. As a result, the implementation of these policies is still conflicting, prone to dispute and hard to do.

Citation: Syahza, A., Bakce, D., and Irianti, M., (2019). Improved Peatlands Potential for Agricultural Purposes to Support Sustainable Development in Bengkalis District, Riau Province, Indonesia. Journal of Physics: Conference Series. Volume 1351, Nomor 1. http://doi.org/10.1088/1742-6596/1351/1/012114

Continue reading →

Peningkatan Pendapatan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Limbah Lidi Kelapa Sawit Didesa Sepahat Kabupaten Bengkalis

Desa Sepahat memiliki jumlah penduduk sekitar 1.634 jiwa yang terbagi kedalam 418 Kepala Keluarga. Sebagian besar masyarakat Desa Sepahat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit dan karet serta sebagian kecil dari sektor perikanan. Luasnya perkebunan … Continue reading

Pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk budidaya jamur merang dalam upaya perbaikan ekonomi desa: Pengabdian kepada masyarakat di Desa Kampung Baru, Kabupaten Pelalawan

Oleh: Djaimi Bakce, Almasdi Syahza, Syaiful Bahri, Mitri Irianti, RM Riadi, dan Brilliant Asmit

Di Desa Kampung Baru Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan tersedia limbah kelapa sawit berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dari pabrik pengolahan kelapa sawit. TKKS dapat dimanfaatkan untuk dijadikan media budidaya jamur merang. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi ini dilaksanak an pelatihan dan pendampingan kepada kelompok masyarakat dan lembaga ekonomi lokal dalam bentuk pengembangan produk jamur merang dan penguatan kelembagaan. Pelaksanaan kegiatan dengan cara melakukan pendampingan secara berkala kepada masyarakat desa sebany ak 20 orang. Disamping itu juga diberikan pengetahuan tentang pemasaran produk jamur merang sehingga berdampak terhadap perubahan pendapatan dan perekonomian masyarakat. Kegiatan berlokasi di daerah pengembangan biogas plant. Capaian hasil kegiatan adalah peserta telah dapat membudidayakan jamur merang mulai dari proses menyiapkan media TKKS hingga pemanenan. Kegiatan ini belum sampai pada tahap perhitungan hasil panen dan pemasaran, tetapi peserta sudah mendapat gambaran estimasi produk jamur merang. Pada luas areal panen 144 m2 memproduksi jamur merang sebanyak 34.56 kg per hari.

Citation: Bakce, D., A. Syahza, S. Bahri, M. Irianti, RM Riadi, & B. Asmit. 2019. Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit untuk Budidaya Jamur Merang dalam Upaya Perbaikan Ekonomi Desa: Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Kampung Baru, Kabupaten Pelalawan. Unri Conference Series: Community Engagement 1: 235-242 https://doi.org/10.31258/unricsce.1.235-242

Dampak Nyata Pengabdian Perguruan Tinggi Dalam Membangun Negeri

Iptek dan pendidikan tinggi dapat berkontribusi dalam penguatan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh keunggulan teknologi yang dihasilkan maupun kemitraan dengan dunia industri. Perguruan tinggi di Indonesia telah menghasilkan inovasi yang mendatangkan manfaat langsung bagi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk keterlibatan perguruan tinggi mengimplementasi pengetahuan. Perguruan tinggi harus meyakinkan cara berpikir akademisi bahwa Tri Dharma perguruan tinggi merupakan satu paket kegiatan dan simbol keberhasilan suatu institusi sebagai perguruan tinggi. Pengabdian mampu memberdayakan masyarakat dengan penerapan teknologi tepat guna, implementasi model pemecahan masalah, dan rekayasa sosial. Pengabdian perguruan tinggi dapat menghasilkan hak kekayaan intelektual dan juga rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat, dunia usaha, industri, dan pemerintah.

Citation: Syahza, A. 2019. Dampak Nyata Pengabdian Perguruan Tinggi dalam Membangun Negeri. Unri Conference Series: Community Engagement 1: 1-7. https://doi.org/10.31258/unricsce.1.1-7