PENATAAN KELEMBAGAAN KELAPA SAWIT DALAM UPAYA MEMACU PERCEPATAN EKONOMI DI PEDESAAN

Perkebunan kelapa sawit di Propinsi Riau berkembang sangat pesat yakni tahun 2013 telah mencapai luas 2.372.402 ha dengan produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 43.065.918 ton. Luas perkebunann kelapa sawit rakyat mencapai 56%. Jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi sebanyak 172 unit dengan kapasitas olah 7.800 ton per jam atau 37.440.000 ton per tahun. Berdasarkan kondisi tersebut menyababkan semua TBS tidak dapat diolah dalam waktu yang relatif pendek. Kelebihan pasokan TBS berdampak terhadap nilai tambah yang diterima petani kelapa sawit, karena petani kecenderungan menghadapi pasar monopsoni. Keutamaan penelitian ini adalah menemukan strategi penataan kelembagaan usahatani kelapa sawit dalam upaya memacu pertumbuhan melalui pengembangan industri hilir kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan dengan metode perkembangan (Developmental Research). Untuk mendapatkan informasi yang akurat dilakukan dengan metode Rapid Rural Appraisal (RRA), yaitu suatu pendekatan partisipatif untuk mendapatkan data/informasi dan penilaian (assesment) secara umum di lapangan dalam waktu yang relatif pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelapa sawit telah memberikan tingkat kesejahteraan yang tinggi di pedesaan. Aktivitas kelapa sawit juga menciptakan multiplier effect ekonomi di pedesaan. Ke depan dibutuhkan PKS sebanyak 13 unit dengan kapasitas olah 60 ton TBS per jam (jam kerja 600 jam per bulan). Percepatan pembangunan ekonomi pedesaan dilakukan dengan pengembangan konsep kemitraan dengan pemilik modal. Mitra yang dibangun adalah PKS yang dapat menampung TBS petani swadaya. Sistem mitra tersebut melibatkan tiga komponen, yaitu: Petani melalui kelompoktani dan koperasi, perusahaan pengembang (investor), dan Lembaga Penelitian Universitas Riau. Ketiga komponen ini membangun mitra usaha dalam konsep kebersamaan yaitu agroestate berbasis kelapa sawit.

Baca selengkapnya….