MODEL PENGEMBANGAN DAERAH TERTINGGAL DALAM UPAYA PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI PEDESAAN DI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI PROPINSI RIAU

Salah satu kabupaten yang merasakan ketimpangan dan banyaknya daerah tertinggal di Propinsi Riau adalah Kabupaten Kepulauan Meranti.  Kabupaten tersebut memiliki luas daerah 3.707.84 km2 dan  jumlah penduduk sebanyak   216.329 jiwa. Sebagian besar dari desa yang ada yakni sebanyak 59 desa (80,82%) merupakan desa tertinggal. Jumlah rumah tangga sebanyak 45.564 KK, dan sebesar 56,76% (25.863 KK) merupakan rumah tangga miskin yang terdiri dari 114.496 jiwa.

Baca selengkapnya…

KELAPA SAWIT DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PEDESAAN DI PROPINSI RIAU

Pembangunan perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan dan keterbelakangan khususnya di daerah pedesaan, di samping itu juga memperhatikan pemerataan perekonomian antar golongan dan antar wilayah. Pembangunan pertanian yang berbasis perkebunan dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sehingga terjadi suatu perubahan dalam pola hidup masyarakat di sekitarnya. Kegiatan pembangunan perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat mengangkat perekonomian masyarakat khususnya mereka yang bermata pencaharian dari sektor pertanian. Dampak dari pembangunan tersebut akan terlihat, antara lain: 1) Angka multiplier effect ekonomi yang diciptakan dari kegiatan pembangunan perkebunan kelapa sawit di pedesaan; 2)Indek kesejahteraan masyarakat pedesaan sebagai akibat dari pembangunan perkebunan kelapa sawit.

Baca selengkapnya…..

POTENSI PENGEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT

Luas perkebunan kelapa sawit berdasarkan data  tahun 2010 telah mencapai 2.103.175  ha dan produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 36.809.252 ton per tahun dengan produktivitas 22,8 ton per tahun per hektar. Berdasarkan kondisi lahan dan tingkat kesuburan tanah di Riau produktivitas CPO sebesar 3,9 ton per tahun per hektar. Sementara itu jumlah pabrik kelapa sawit di Riau sebanyak 146 buah dengan kapasitas produksi sebesar 6.254 ton per jam. Kapasitas olah PKS yang terpasang di Riau sebesar 6.254 ton per jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas PKS terpasang tidak bisa melayani produksi kebun di Riau. Akibatnya sering terjadi keterlambtan pengolahan TBS oleh PKS. Kondisi ini memperlihatkan daya dukung wilayah (DDW) terhadap industri kelapa sawit (pabrik kelapa sawit) lebih besar dari 1. Hasil analisis menunjukkan di Riau masih kekurangan PKS.

Baca selanjutnya….

PERCEPATAN EKONOMI PEDESAAN MELALUI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Kegiatan perkebunan kelapa sawit di pedesaan menciptakan angka multiplier effect sebesar 3,03, terutama dalam lapangan pekerjaan dan peluang berusaha. Indek kesejahteraan petani di  pedesaan tahun 2003 sebesar 1,72. Berarti pertumbuhan kesejahteraan petani mengalami kemajuan sebesar 172 persen. Pada periode tahun 2003-2006 indek kesejahteraan petani 0,18 dan periode tahun 2006-2009 juga mengalami positif sebesar 0,12. Ini berarti kesejahteraan petani pada periode tersebut meningkat sebesar 12 persen.

Baca selengkapnya….

The Institutional Arrangements in Oil Palm Sector as an Effort to Spur Economic Growth in Rural Areas

International Research Journal of Business Studies, Volume 4 No 3 December 2011-March 2012

Oil palm is an excellent plant for the people of Riau Province. It can be seen from the rapid development of plantations, in 2001 oil palm plantations covered an area of ​​1,119,798 ha and in 2010 it increased to 1,925,341 ha with growth of 36.02%. Oil palm plantation activities brought economic impact on society, both the people directly involved with the activities of plantations and the surrounding community. To anticipate the rapid development, a model to avoid inequality of income among farmers needs to be designed, especially for farmers in partnership pattern and self-supporting farmers. Institutional model aims to increase the welfare of rural farmers in the form of Oil Palm Based Agroestate (ABK). The concept of Oil Palm Based Agroestate collaborates between farmers, cooperatives, and business enterprises. Through the ABK program, farmers have the opportunity to buy/have shares of the Oil Palm Factory (PKS). There are two main business activities of ABK model; first, business activities that build oil palm plantations and factories of the derivative industry, and if necessary the settlement of participant farmers will be established by the developer; second, business activities that manage plantations and participant farmers-owned factories as well as market the products which are carried out by a managing business enterprise or a cooperative which is formed by the participant farmers.

Continue reading

Model Pengembangan Kelembagaan Perkebunan dalam Mendukung Keberdayaan Ekonomi Masyarakat

Pembangunan perkebunan di Indonesia telah membawa dampak ekonomi terhadap masyarakat, baik masyarakat yang terlibat dengan aktivitas perkebunan maupun terhadap masyarakat sekitarnya. Begitu pesatnya perkembangan luas areal perkebunan rakyat khususnya swadaya murni, maka perlu dirancang suatu model untuk menghindari ketimpangan pendapatan antara petani. Model kelembagaan tersebut bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan petani di pedesaan dalam bentuk Agroestate Berbasis Perkebunan (Agroestate Perkebunan). Melalui program tersebut, petani memperoleh kesempatan untuk membeli/memiliki saham di pabrik pengolahan hasil perkebunan yang dikembangkan oleh perusahaan pengembang. Model agroestate yang dimaksud, terdapat dua kegiatan bisnis utama yaitu; pertama, kegiatan bisnis membangun  kebun dan pabrik industri serta jika diperlukan permukiman petani peserta yang akan dilakukan oleh perusahaan pengembang (developer); kedua, adalah bisnis mengelola kebun dan pabrik milik petani peserta serta memasarkan hasilnya yang dilakukan oleh badan usaha pengelola yaitu koperasi yang dibentuk oleh petani peserta itu sendiri. Pengembangan perkebunan juga diiringi dengan pembinaan masyarakat sekitar perkebunan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat tempatan melalui koperasi.

Artikel selengkapnya